Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Saturday, October 28, 2023

Apakah Akal Membutuhkan Wahyu ?

 


Akal merupakan karunia pemberian Allah sebagai alat untuk berfikir dalam mencerna setiap perintah Tuhan dan untuk menjalani kehidupan. Dengan akal seorang bisa shalat dengan benar, puasa, zakat, haji dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Dengan akal pula manusia bisa membuat makanan, rumah, panci, almari, motor, pesawat, sebagai penunjang dalam kehidupannya. Sehingga akal yang sehat merupakan syarat seseorang terbebani kewajiban dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (mukallaf).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: [1] orang yang tidur sampai dia bangun, [2] anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan [3] orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun Alhamdulillah kita tidak dibebani oleh Allah Sang pemberi akal untuk mencari tahu alasan logis (menalar) setiap perintah Allah, karena Allah tahu bahwa akal kita terbatas. Kita hanya diperintahkan untuk menerima dan taat terhadap-Nya tanpa harus mencari tahu terlebih dahulu sebab atau alasannya. Namun jika dikemudian hari kita menemukan atau memahami himah-hikmah dari setiap perintah dan taqdirnya itu merupakan karunia Allah sehingga iman kita semakin bertambah. Sebagaimana seorang mukmin dalam menyikapi hadits dzubab (lalat). Rasulullah pernah bersabda dalam hadits shahih Riwayat Bukhari,

 إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

“Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”
Secara akal itu adalah hal yang menjijikkan, karena akal menerima bahwa lalat adalah makhluk yang menjijikkan yang hinggap ditempat-tempat yang kotor sehingga kehadirannya di makanan, minuman akan membawa penyakit. Namun 1400 tahun yang lalu Rasul bersabda demikian dan pada saat itu belum adala laborat. Namun ketika para sahabat mendengar hadits terbut sikap mereka adalah menerima dan meyakini kebenarannya tanpa harus melakukan riset terlebuh dahulu. Dan ternyata setelah berabad-abad baru diyakini bahwa apa yang Rasul sabdakan benar, dimana pada sayap lalat terdapat penawar. Sebagaimana dilansir pendis.kemenag.go.id pada  tanggal 12 oktober 2022 seorang Siswa MAN 2 Tasikmalaya, Bernama Nabilah Husniyyah melakukan sebuah penelitian yang berjudul Profiliing dan Docking Senyawa Kandidat Antikanker dari Sayap Kanan Lalat melalui Karakteristik GC-MS. MasyaAllah tabarokaRahman
 
Menagapa kita tidak wajib mencari tahu alasan dalam setiap perintah dan larangannya ?

Pertama ; Sadarilah kita adalah ‘Abdun (hamba) hamba tidak memiliki kuasa untuk bertanya apa yang menajdi perintah dari Tuanya. Tugas hamba hanya menerima dan taat setiap Perintah tuannya. Sedangkan Allah berikan akal kepada manusia agar hambanya faham dan tahu apa yang menjadi kewajibannya dan bisa melaksanakan perintah-Nya dengan baik dan benar. Karena orang gila yang hilang akalnya tidak mungkin bisa menerima perintah itu apa lagi melaksankannya dengan baik dan benar.
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At Taghabun: 12)

Az Zuhri –rahimahullah– mengatakan,

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ ، وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْبَلاَغُ ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

“Wahyu berasal dari Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan kepada kita. Sedangkan kita diharuskan untuk pasrah (menerima).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabut Tauhid secara mu’allaq yakni tanpa sanad)

Kedua : Islam adalah agama Iman. Artinya banyak hal-hal kaitannya dengan wahyu Allah yang tidak terjangkau oleh akal manusia; tentang taqdir, hari kiamat, isra’ mi’raj, surga dan neraka serta masih banyak lagi hal-hal yang Allah wahyukan yang tidak terjangkau oleh akal manusia bahkan sekalipun mereka melakukan riset. Maka sadarilah Rob kita adalah Rob yang maha tahu atas segala sesuatu, karena Ia adalah Pencipta (Kahaliq) dan yang menentukan taqdir setiap makhluk ciptaan-Nya, sehingga dia tahu apa yang terjadi setelah ini setiap daun yang jatuh, aktifitas semut yang ada didalam luban yang tersembunyi Dia mengetahuinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
 
“Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allâh amat mengetahui segala yang gaib?” (QS.At-Taubat/9: 78)
 
Namun bukan berarti kita tidak boleh menggali setiap hikmah dibalik taqdir Allah, atau meneliti setiap wahyu dari-Nya. Tidak sedikit teknolog yang masuk islam setelah melakukan sebuah penelitian terhadap apa yang Allah wahyukan. Sebagaimana kisah dokter kulit dari jepang setelah meneliti ayat Allah QS. An Nisa ayat 56 lalu dia memadukan dengan ilmu kedokterannya. Berawal dari peratanyaan “menagapa Allah membakar kulit manusia hingga hangus lalu ia kembalikan Kembali ?” jawabannya karena kulit adalah indra perasa pada manusia. Lalu masukkah ia kedalam Islam.
 
Lalu apakah akal membutuhkan wahyu ?
Maka jawabannya ; Sangat butuh, mengapa ? karena diawal sudah saya sampaikan bahwa akal manusia sangat terbatas sehingga terkadang tidak dapat menjangkau (mengetahui alasannya/ hikmahnya) dari setiap perintah dan larangan Allah. Jika boleh saya menganalogikan bahwa akal adalah ibarat mata dan wahyu adanya cahanya. Seorang yang bisa melihat (memiliki mata) dia tidak bisa berjalan dengan benar tanpa Cahaya (pelita/lampu). Dia akan tertabrak dengan benda-benda yang ada disekitarnya atau terjatuh karena lubang yang ada dihadapannya. Sehingga akal butuh wahyu sebagai pembimbing dalam kehidupan manusia. Olehkarenanya Allah tegaskan dalam firmnnya,
 
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ

Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang yang memiliki pikiran bisa mengambil pelajaran” (QS. Shaad: 29)
 
Dan Ketika akal tidak dibimbing oleh wahyu maka akal akan menjadikan hawa nafsu sebagai pembimbingnya. Sedangkan nafsu tidak lah mengajak kecuali pada keburukan. Sebagaimana Allah berfirman,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf : 53)
 
Maka Ketika manusia menjadikan nafsu sebagai pembibingnya jadilah mereka sebagai Ahlul hawa’; pengekor hawa nafsu. Sehingga hidupnya selayaknya Binatang bahkan lebih buruk dari Binatang. Allah sendiri yang mengatakan demikian,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Surat Al-A’raf : 179)

Maka sikap seorang mukmin yang benar adalah hendaknya menjadikan akal sebagai media untuk mencerna setiap ayat-ayat Allah baik ayat kauniah (ciptaan-Nya) maupun ayat syariyyah (Qur’an dan Hadits), sehingga dengan seperti itu semakin bertambah keimananya kepada Allah Ta’ala. Wallahu’alam
 
 
 
 




0 comments:

Post a Comment