Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Gabung yu di IeLC !!!

Belajar islam jadi lebih mudah cukup lewat Gadget anda.

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos

Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya,"bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos." Baca selengkapnnya..

Ia Membuat ku Malu

Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Baca selengkapnya...

Thursday, August 31, 2023

Indonesia Darurat Judi Online

 


Maraknya situs judi online di jagat maya membuat masyarakat banyak yang terjebak ke dalam perbuatan buruk mulai dari; terlilit pinjol (pinjaman online), pemerasan, pembunuhan, penculikan, pencurian, bunuh diri, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang merebak akibat judi online.

 

Saya coba menyebutkan beberapa kasus-kasus yang terjadi belakangan ini akibat judi online. Dimulai pada bulan juni 2023 kurang lebih ada tiga kasus, pertama; dilansir Kompas.com seorang pekerja IKN tewas bunuh diri akibat terjerat pinjol karena Judi Slot, kemudian kasus kedua terjadi di Morowali Sulteng seorang anak rela rampok dan bunuh ibu kandung demi main judi online, masih di bulan juni seorang karyawan diler motor di Balikpapan  menggelapkan uang penjualan unit motor untuk main judi online. Kemudian masuk di bulan juli 2023; dilansir dari laman tvonenews.com seorang pemuda di Bangka Belitung nekat membobol 8 rumah karena kecanduan narkoba dan sering Depo Judi Online, kemudian terjadi di Gersik seorang suami tega kurangi jatah belanja Istri demi judi online hingga mendekam di penjara. Lalu masuk dibulan agustus 2023; dilansir detik.com karena ketagihan judi slot seorang pemuda nekat bobol minimarket di Bandung, dan lima jam yang lalu dilansir www.cnnindonesia.com Seorang karyawan perusahaan manufaktur tekstil di Jakarta Barat nekat menggelapkan barang-barang milik kantor tempatnya bekerja karena terlilit utang akibat judi online, dan jika didata masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di Indonesia akibat judi online.

 

Maka benar apa yang difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah  ayat 219. Allah Azza wa Jalla berfirman,

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar  (minuman keras) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.”

 

Memang judi dan khamr memiliki manfaat namun manfaatnya tidak sebanding dengan madzaratnya (dampak buruknya), karena sebab judi dan khamr seorang bisa gelap mata hingga melakukan tindak kejahatan; mencuri, memperkosa, membunuh, merampok, memeras dan kejahatan lainnya. Sehingga minuman keras dan judi diharamkan dalam Islam.

 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi baru-baru ini mengumumkan bahwa Indonesia darurat judi online. Melihat kini situs-situs judi online semakin menjamur dan semakin terang-terangan mempromosikannya. Pernyataan beliau tersebut dilansir dalam laman tempo.co.

Budi Arie Setiadi juga menyampaikan, sepanjang 2018 hingga 19 Juli 2023, Kominfo telah melakukan pemutusan akses atau blokir 846.047 situs yang mengandung konten perjudian online. Bahkan, sepekan setelah menjabat Menkominfo pada 17 Juli lalu, terdapat 11.333 konten judi online telah diblokir. 

Apa yang memotivasi seorang bermain judi online ?

Mungkin diantara sebabnya adalah kebutuhan ekonomi saat ini yang semakin meningkat, kemudian sedikitnya lapangan perkerjaan ditambah banyak masyarakat khusunya kaum pria yang tidak memiliki skill (kemampuan) sehingga sulit untuk mengembangkan diri dan hanya berpatokan menjadi pekerja atau karyawan, belum lagi pengaruh gaya hidup hedonis yang bertebaran di media sosial; dimana seorang selegram atau youtuber sering kali memamerkan kehidupannya yang glamor dalam konten-konten mereka, sehingga mendorong seorang ingin mengikuti gaya hidup semacam itu. Maka dengan pikiran dangkalnya judi onlinelah solusi yang tepat untuk menuruti segala keinginan hawa nafsunya tersebut, padahal sebenarnya dia sedang masuk dalam lingkaran api yang akan membakar masa depan hidupnya. Khusunya para kawula muda yang masih sangat labil dalam berfikir dan bertindak, ingin cepat kaya dengan cara yang instan tanpa harus bersusah payah bekerja. Sungguh boodoh pemikiran semacam ini.

 

Padahal jika kita membaca buku-buku Sejarah tentang kisah hidup para sahabt nabi, atau orang-orang sukses lainnya, mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berdagang, berternak, menjadi karyawan toko, dan lain semisalnya. Karena tidak mungkin sesuatu yang enak didapatkan dengan cara yang instan, kecuali kesenangan itu hanyalah sesaat, semua butuh proses yang matang.

 

Lalu bagaimana cara mencegah agar tidak mudah terjelembab dalam judi online ?

Dari sudut pandang Islam, setidaknya ada tiga hal yang dapat mencegah seseorang agar tidak terjelembab dalam judi online. Diantaranya yaitu ;

Pertama : berilmu, ilmu adalah perisai jiwa dari dorongan syahwat dan bisikan syaiton yang senantiasa mengajak kepada keburukan. Dengan kita mengkaji petunjuk-petunjuk Allah (Qur’an dan Sunnah) missal mengkaji ayat atau hadits tentang balasan Allah terhadap hambanya yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, melanggar perkara yang diharamkan Allah maka akan timbul pada diri kita rasa khauf (takut). Inilah yang akan mencegah kita dari perbuatan maksiat dan dihindari dari hal-hal yang buruk. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Kedua ; Menjaga Iman dan taqwa, iman dan taqwa adalah seperti 2 sisi uang logam yang keberadaannya saling menyatu dan menguatkan satu sama lain. Ketika seseorang menjaga imannya kepada Allah; kita yakin bahwa Allah itu ada dan Dia maha melihat dan mengetahui segala apa yang kita perbuat, kemudian kita istiqomah didalam ketaatan kepadanya maka InsyaAllah Dia akan memberikan solusi dari setiap permasalahan kita dan dia akan membukakan pintu rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا   وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Sehingga orang yang beriman dan bertqwa tidak pernah merasa khawatir akan masa depan hidupnya karena dia memiliki Allah zat yang maha perkasa.

 

Ketiga dan empat : bekerja yang halal dan tawakal kepada Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk menjemput rizki Allah dengan bekerja. Allah berfirman,

 

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS.Al-Jumu’ah :10)

Dan carilah rizki dengan cara yang halal agar rizki yang kita dapatkan barokah membawa kebaikan yang banyak untuk dirikita dan keluarga yang kita nafkahi. Karena masalah rizki bukan sebatas nominal tapi keberkahan. Besar nominal yang kita dapatkan tidak menjamin cukup jika tidak diberkahi oleh Allah namun sebaliknya nominal sedikit jika diberkahi maka insyaAllah cukup. Maka carilah rizki yang halal agar kehidupan kita diberkahi oleh Allah ta’ala.

Dan yang lebih penting tingkatkan tawakal kepada Allah. Jika kita sudah berusaha dengan bekerja selanjunta adalah tawakal ‘alallah menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah maka Allah pasti akan penuhi segala kebutuhan kita. Didalam Al Quran Allah memberikan jaminan kepada hambanya yang bertawakal kepada-Nya. Allah berfirman,

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. QS. Ath-Thalaq : 3)

Kelima : Qanaah, yaitu rela menerima apapun yang diberikan kepada Allah, bersyukur dan bersabar sesuai dengan apa yang berikan oleh Allah. 

 

Seorang penjudi adalah manusia yang tidak qanaah terhadap pemberian Rob-Nya. Sehingga tidak pernah merasa puas terhadap nikmat yang telah ia peroleh dan begitulah sejatinya tabi’at manusia. Rasulullah bersabda,


 

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

 


Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048)

 

Untuk bisa qana’ah seseorang hendaknya senantiasa melihat kebawah dalam masalah dunia, agar tumbuh pada dirinya rasa Syukur dan cukup terhadap nikmat Allah.

 

Dalam bab yang sama pada Sunan Ibnu Majah disebutkan pula hadits,

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »

”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani)

 

Dengan iman dan taqwa, kerja keras dan tawakal, serta qana’ah maka InsyaAllah kita akan dijauhkan dari ketertarikan terhadap judi. Karena judi hanya akan merugikan diri sendiri dan juga keuarga.

 

 



Sunday, August 27, 2023

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos


Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya, bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos. Benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihiwasalalm dalam hadits riwayat al hakim,


اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ


“Seseorang itu berada di atas agama sahabat karibnya, maka perhatikanlah salah seorang di antara kalian dengan siapakah dia berteman dekat?”


Poin dalam penyampaian beliau adalah selektif dalam memilih teman. Termasuk juga dalam memfollow atau mengkonfirm teman di Medsos.


Lalu triknya bagaimana dalam memilih teman di medsos ?


Dijelaskan dalam nadzom Alaa-laa,


 عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ


"Janganlah engkau bertanya tentang kepribadian orang lain, lihat saja temannya (pergaulannya), karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya,


فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَــــــــــــدِيْ


Bila temannya (pergaulannya) tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya (pergaulannya) baik maka temanilah dia, dengan kamu akan mendapatkan petunjuk."

Pemahamannya adalah; sebelum kita mengkonfrim seseorang di medsos lihat terlebih dahulu teman-temannya apakah anda mengenalnya, apakah teman-temannya semanhaj dan seaqidah dengan mu ?, Atau juga bisa dilihat dari postingan-postingannya, apakah yang ia posting sesuatu yang bermanfaat ? Jika ia seaqidah dan semanhaj atau yang diposting bermanfaat maka ia bisa kita jadikan teman di akun medsos mu.

Bersikap baiklah kepada semua orang, namun selektiflah dalam memilih teman. (AZ)

 Barokallahufikum

Thursday, August 24, 2023

Hadits ke 1 : Ia Membuatku Malu



Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Didalam kitab Hadits Al-Arbain An Nawawiyyah pada hadits ke 24 dari sahabat Abu dzar Al Ghifari radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad Shalllahu'alaihi wa sallam beliau meriwayatkan dari Allah 'azza wajalla sesungguhnya Allah berfirman,


يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ


"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian."

Saudaraku, tidakkah engkau menangis membaca firman Allah tersebut. bahasa kasih yang Allah sampaikan kepada hambanya sungguh menusuk jiwa. betapa sayangnya Allah kepada kita para pendosa. ribuan bahkan jutaan dosa telah kita perbuat namun Ia masih mau membuka pintu maaf-Nya kepada kita. berbeda dengan kita yang merasa suci, sehingga seorang yang ribuan kali telah berbuat baik kepada kita namun hilang sekejap hanya karena sekali kesalahan yang mungkin tak sengaja ia perbuat. 

itulah perbedaan kita dengan Robbul'aalamin, pintu maaf Allah sangatlah luas tak sempit seperti pintu yang kita punya.

Maka pantas jika kita mencintai-Nya melebihi kecintaan kita kepada apapun dan siapapun. karena ia telah memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada kita, bukan hanya itu pintu maaf pun Ia buka untuk kita. Maka rajin-rajinlah kita memohon ampun kepadanya dan barengi permohonan maaf itu dengan bukti ketaatanmu kepadanya agar engkau tidak benar-benar sedang mempermainkan-Nya.





Saturday, August 19, 2023

Membangun Semangat Baru Untuk Indonesia Yang Lebih Maju

Materi Gatrhering Akbar "Membangun Semangat Baru Untuk Indonesia Yang Lebih Maju"

Download

Friday, August 11, 2023

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Ilustrasi


Dijelaskan dalam kitab Min Ushul Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah karya Syaikh Shalih al Fauzan hafidzahullah, "Bahwa diantara prinsip aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila mereka memerintahkan berbuat maksiat di kala itu kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya". Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

 

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."(QS. An-Nisa : 59)

Jika kita perhatikan dalam ayat ini, Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh "Ati'u" taatilah !!! karena ketaatan kepada pemimpin merupakan taabi' (ikutan) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya taat kepada Allah dan Rasulnya adalah hal yang Mutlaq (wajib ditaati), adapun taat kepada pemerintah bukan hal yang mutlaq, sehingga ketika pemerintah kita mengajak atau memerintahkan pada jalan kemaksiatan maka kita tidak wajib metaatinya. Namun kita tidak boleh memberotaknya, atau megkudetannya dan kita wajib taat pada perkara mubah (yang dibolehkan) lainnya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,,

 

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

 

“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

 

Lalu ada sebuah pertanyaan, “Bagaimana jika pemerintah kita tidak dipilih secara syariat islam dan sistem hukum serta pemerintahan kita tidak berjalan diatas syariat Islam ?”

Maka kita katakan, jika pemerintah kita dipilih dengan cara islam seperti Pemilu atau tidak menggunakan cara yang telah diterapkan oleh Rasul dan para sahabatnya yaitu ; dengan jalan musyawarah seperti Abu Bakar dipilih untuk menggantikan Rasulullah, atau pemimpin sebelumnya menunjuk langsung penggantinya seperti Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab. Atau dalam menjalankan pemerintahannya dia tidak menggunakan syariat Islam sebagai asasnya. Maka kita tetap wajib mentaatinya. 


Dalil akan hal ini adalah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan tirmidzi. Dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

 

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

 

Kita tahu bahwa syarat menjadi pemimpin dalam islam harus beragama Islam dan Merdeka (bukan budak), namun jika salah satu dari sayarat tersebut tidak terpenuhi maka kita tetap wajib mentaatinya. Misalnya ; Seorang budak terpilih menjadi pemimpin (ulil amri) kita tetap wajib untuk mentaatinya, sekalipun ia tidak memenuhi syarat (Merdeka). Demikian juga sama halnya jika terjadi seorang non muslim terpilih menjadi pemimpin, Nauzubillah min dzalik kitapun wajib mentaatinya selama tidak dalam hal kemaksiatan. Demikian apa yang disabdakan oleh Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mentaati pemimpin (pemerintah) memiliki kemaslahatan yang sangat besar. 

 

Dan ketauhilah bahwa bermaksiat (menentang) kepada seorang pemimpin yang muslim merupakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, 

 

مَنْ يُطِعِ الأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ وَمَنْ عَصَى الأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِيْ

 

“Barangsiapa yang taat kepada pemimpin (yang muslim) maka dia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amir maka dia maksiat kepadaku"

Dan bermaksiat kepada Rasul sama dengan bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Allah ta’ala berfirman,

 

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

 

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS. An Nisa: 80)

 

Sehingga haram hukumnya memberontak/ mengkudeta/ mendemo terhadap pimpinan kaum muslimin, sekalipun pemimpin tersebut melakukan hal yang menyimpang seperti melakukan kedzolima. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah tentang wajibnya taat kepada mereka dalam hal-hal yang bukan maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas, sekalipun kita di dzolimi.

 

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى


“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal).

 

وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ


Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

 

Kemudian para sahabat bertanya,

 

كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ

 

Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

 

Lalu apa jawaban dari Rasulullah, apakah beliau memerintahkan untuk memberontak ? Mengkudeta ? Mendemo ? Tidak. Perhatikan jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

 

”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

 

Bahkan Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321H) berkata dalam kitab beliau, Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,

 

وَلَا نَرَى الْخُرُوجَ عَلَى أَئِمَّتِنَا وَوُلَاةِ أُمُورِنَا

 

“Dan kami (ahlus sunnah) tidak berpendapat (bolehnya) keluar (memberontak) dari pemimpin dan penguasa kami (yaitu kaum muslimin)”.

 

Ini adalah salah satu prinsip aqidah ahlus sunnah yang wajib bagi kita untuk berpegang teguh padanya. Maka bersabarlah kepada pemimpin kita dalam hal ini pemerintah, taatilah demi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Yakinlah bahwa dibalik perintah Allah dan Rasul-Nya pasti ada kebaikan yang banyak, dan dibalik larangan Allah pasti ada keburukan yang besar. Sejarah telah membuktikan, Perhatikan negara-negara yang rakyatnya melakukan kudeta kepada pemerintah akibat ketidak sabarannya terhadap pemerintah, apa yang terjadi pada negara tersebut "Apakah kemudian negara itu menjadi lebih baik sebut saja; Libiya, mesir, suria ? Jawabannya TIDAK bahkan timbul pada nya keburukan-keburukan yang lebih besar, pertumpahan darah, kemiskinan, kerusakan, dan lain semisalnya.

 

Lalu apa yang harus kita perbuat, tatakala kita menyaksikan kedzoliman pada pemimpin kita ? Yang pertama adalah nasihati ia secara sembunyi-sembunyi lalu kemudian yang kedua do'akan kebaikan untuknya. Coba tanyakan dalam hati kita “Apakah dengan mencaci pemimpin kita ia akan berubah menjadi lebih baik ???” jawabannya tentu Tidak justru itu akan menambah dosa kita karena mencacinya, menggunjingnya. Lalu pertanyaanya selanjutnya “jika kita mendoakan kebaikan padanya (pemerintah), apakah pemimpin kita bisa berubah ?” Jawabannya; “Bisa, karena Allah yang menggenggam, dan membolak balikkan hati manusia.” Maka doakan pemerintah kita jika kita melihat ada hal yang tidak baik pada dirinya, ketauhilah bahwa tidak ada manusia yang sempurna termasuk saya dan anda. 

Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,

 

لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

 

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

 

Semoga Allah menjaga negeri yang kita cintai ini dan senantiasa mengaruniai negeri ini pemimpin yang shalih.


Penulis: Abdul Aziz Jaisyi

Tafsir QS. Ad Dukhan Ayat 43-50 : Menu Spesial Bagi Sang Pendosa


ilustrasi

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ

Allah Ta’ala berfirman,

 

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الأثِيمِ (44) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (46) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (47) ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (48) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (49) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (50)

 

Artinya : “Sesungguhnya pohon zaqqum -itu makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. Peganglah dia, kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia. Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.”

 

Penjelasan :

Tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki dosa atau bersih dari kesalahan. Semua manusia pasti memiliki dosa dan pernah melakukan kesalahan. Namun Allah memberikan fasilitas kepada kita berupa taubat untuk mencuci dosa yang kita perbuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

 

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”(HR. Tirmidzi)

 

Dan Allah sangat mecintai hamba-hambanya yang gemar bertaubat kepada Allah, menyesali akan perbuatannya dan berusaha untuk meninggalkan kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ

 

“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

 

Dan Allah sangat benci terhadap hambanya yang sombong, enggan memanfaatkan fasilitas atau kebaikan yang Allah berikan. Mereka enggan bertaubat kepada Allah atas dosa yang mereka perbuat, bahkan Sebagian dari mereka tidak merasa bersalah. Mungkin dia tahu; pernah mendengar atau pernah membaca ayat-ayat Allah tentang larangan dan ancaman, namun dia mengingkari ayat-ayat tersebut atau sebagaian dari mereka meragukannya. Sehingga dia kufur terhadap ayat-ayat Allah. Orang semacam ini Kelak mereka akan masuk kedalam Neraka Jahanam, disana mereka akan diberikan pelayanan dan menu makanan yang spesial sebagai balasan dari perbuatan mereka ketika di dunia.

Allah Ta’ala berfirman, menceritakan azab-Nya yang Dia timpakan kepada orang-orang kafir yang mendustakan hari perjumpaan dengan-Nya.

 

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الأثِيمِ

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa.” (Ad-Dukhan: 43-44)

Di kutip dari kitab Tafsir Ibnu katsir: yakni akibat banyaknya dosa dalam ucapan dan perbuatannya, sedangkan dia adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Allah. Menurut apa yang diterangkan bukan hanya oleh seorang ulama, orang yang dimaksud adalah Abu Jahal. Tetapi memang tidak diragukan lagi bahwa dia termasuk orang yang diterangkan dalam ayat ini, namun bukan hanya khusus bagi Abu Jahal saja melainkan juga berlaku bagi manusia yang memiliki prilaku seperti Abu Jahal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Hammam ibnul Haris, bahwa Abu Darda mengajarkan kepada seseorang firman Allah : Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa. (Ad-Dukhan: 43) Lalu lelaki itu mengatakan bahwa zaqqum itu adalah makanan lain daripada yang lain. Maka Abu Darda radhiyallahu anhu, mengatakan, "Katakanlah, bahwa sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan orang yang durhaka." yakni tiada makanan lain baginya selain dari buah pohon zaqqum.

Mujahid mengatakan, "Seandainya dijatuhkan satu tetes dari zaqqum itu ke bumi ini, niscaya semua penghidupan penduduk bumi menjadi rusak (tercemar) karenanya." Hal yang semisal telah disebutkan secara marfu'.

 

Bagaimana mana bentuk Zaqqum itu ?

Dalam lanjutan Allah menjelaskan tentang karakteristik dari Zaqqum, menu spesial yang Allah suguhkan bagi para pendosa. Allah berfirman ;

كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (46)

“(Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (QS. Ad-Dukhan: 45-46)

 

Cara penyajiannya pun spesial. Allah berfirman,

 

خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (47) ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (48)

 

“Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.” (QS. Ad-Dukhan: 47-48)

Ayat tersebut semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam QS. Al-Hajj: 19-20 :

 

يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ. يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

 

“Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka, dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” 

Imam Ibnu Katsir menjalskan dalam kitab tafsirnya; bahwa malaikat memukulinya dengan gada besi, hingga pecahlah kepalanya dan otaknya berhamburan, lalu dituangkan di atas kepalanya air yang mendidih. Kemudian air panas itu turun ke tubuhnya memasuki perutnya dan menghancurkan semua isi perutnya hingga menjulur sampai ke mata kakinya terkelupas. Semoga Allah melindungi kita dari azab neraka ini.

 

Lalu dalam ayat selanjutnya Allah mencemooh mereka yg dahulu sombong tatkala di dunia. Dengan lancing ia berani mennatang Allah, menyepelekaan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang. Allah berifrman,

 

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (49) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (50)

 

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia. Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.” (QS. Ad-Dukhan: 49-50)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kalimat ini Allah ungkapkan dengan nada mengecam dan mencemoohkan.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bahwa makna yang dimaksud ialah 'engkau bukanlah orang yang perkasa, bukan pula orang yang mulia'.

 

Adapun firman Allah Ta’ala,

إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ

“Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu kamu meragu-ragukannya.” (QS. Ad-Dukhan: 50)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

 

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا. هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ أَفَسِحْرٌ هَذَا أَمْ أَنْتُمْ لا تُبْصِرُونَ

 

“Pada hari mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya." Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?” (QS. Ath-Thur: 13-15)

 

Kelak mereka akan menyesal dengan penyesalan yang sangat karena telah meragukan berita yang Allah kabarkan. Padahal apa yang Allah kabarkan adalah benar adanya dan hanya orang-orang beriman yang meyakininya. 

Semoga Allah melindungi kita dari ganasnya siksa api neraka.


Penulis : Abdul Aziz Jaisyi