Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Gabung yu di IeLC !!!

Belajar islam jadi lebih mudah cukup lewat Gadget anda.

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos

Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya,"bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos." Baca selengkapnnya..

Ia Membuat ku Malu

Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Baca selengkapnya...

Monday, April 10, 2023

Tancap Gas Jelang Akhir Ramadhan

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ


Jama'ah sidang shalat jum'at yang semoga dirahmati oleh Allah,
Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia yang Allah telah berikan kepada kita, sehingga pada kesempatan siang yang mulia ini kita dapat bersama-sama memenuhi panggilan Allah Ta'ala yakni melaksanakan shlat jum'at secara berjama'ah.


Dan kita berharap kepada Allah Ta'ala semoga apa yang telah kita usahakan ini dicatat oleh Allah menjadi amal shalih yang di ridhoinya. Aaamin ya Robbal Aalamin.


Jama'ah sidang shalat jum'at yang semoga dirahmati oleh Allah,
sebelumnya izinkan Khatib berwasiat kepada para jama'ah sekalian, khususnya wasiat ini kembali pada diri khatib pribadi. Marilah senantiasa kita tingkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Taqwa dalam artian menjalankan segala apa yang diperintah oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. karena sesungguhnya taqwa merupakan kunci kebahagian manusia di Dunia aupun akhirat. Allah berfirman,


 وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."


وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ 

 "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya" (QS. At Talaq: 2-3)

Maka bertqwalah kepada Allah agar hidup kita bahagia di Dunia dan Akhirat.


Jama'ah sidang shalat jum'at yang semoga dirahmati oleh Allah,
Bulan Ramadhan adalah bagaikan cahaya matahari, yang mana cahayanya bersinar dipagi hari dan perlahan akan redup diwaktu petang, kemudian hilang ketika malam datang. Dan saat ini kita berada dipertengahan bulan ramadhan artinya tidak lama lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Sinar dibulan Ramadhan perlahan mulai meredup, dan sebentar lagi cahaya itu akan hilang dari kehidupan kita.
Ada satu buah hadits Nabi yang manakala kita mendengarnya patut tumbuh rasa kekhawatiran dalam diri kita, khwatir terhadap dosa-dosa kita. 
Rasulullah sallallahualaihiwasallam,


رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ 


"Celaka, bagi orang yang masuk Ramadhan, sampai dengan Ramadhan meninggalkannya namun dosa-dosanya belum dia puni oleh Allah"

Bagaimana tidak celaka !!! Ramadhan yang mana kata Rasulullah, pintu-pintu surga dibuka seluas-luasnya, sebagai simbol bahwa sara beribadah dipermudah oleh Allah dan dikatakan pintu-pintu neraka ditutup serapat-rapatnya serta gembong-gembong setan dibelenggu, artinya sarana dan akses kemaksiatan dipersempit oleh Allah ta'ala. Belum lagi dijelaskan dalam riwayat bahwa dibulan Ramadhan pintu-pintu ampunan dibuka seluas luasnya oleh Allah, setidaknya ada tiga hadits yang mengatakan demikian. Namun masih ada orang yang tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sungguh celaka !!!

Oleh karenanya Hadits ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan, dan muhasabah buat diri kita. tanyakan dalam hati, Apakah dosa-dosa kita saat ini telah diampuni oleh Allah Ta'ala. berapa banyak waktu kita yang terbuang sia-sia dibulan ramadhan, untuk main game, membuka dan menscrol media sosial, belum lagi bukber-bukber yang diikuti sehingga kita meninggalkan shalat magrib berjamah, shalat isya' berjama'ah, bahkan tarwih pun kita tinggalkan. sehingga kita tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang Allah telah berikan dengan sebaik-baiknya.


Maka mumpung masih ada waktu, disisa-sisa waktu yang tinggal beberapa hari lagi, kita tancap gas sekencang-kencangnya. Manfaatkan semaksimal mungkin sisa waktu yang tinggal sedikit ini untuk bermunajat kepada Allah, memperbanyak do'a, bertaubat, memohon Ampun kepada Allah, Serta menyibukkan diri dengan amalan-amalan shalih lainnya serta tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sebagaimana Nabi kita yang mulia sallallahualaihiwasallam, yang mana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim,  dari ibunda Aisyah radiAllah Ta'ala anha. Beliau bercerita,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ


“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”


Jama'ah sidang shalat jum'at yang semoga dirahmati oleh Allah,
Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan kesungguhan beliau menjelang detik-detik akhir bulan Ramamadhan, beliau sibuk dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. i'tikaf, Memperbanyak shalat-shalat sunnah, dzikir, membaca al-quran, sedekah dan lain sebagainya. Betapa luar biasanya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Maka seharusnya kita manusia yang berlumur dosa harus lebih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bermunajad kepada Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, seorang Nabi yang ma'sum (terjaga dari dosa dan maksiat), dijamin Surganya oleh Allah Ta'ala, namun beliau sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah khususnya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. 


Bagaimana dengan kita ?? Yang mungkin jika Allah menampakkan dosa-dosa kita, badan kita tidak akan trlihat karena penuh ditutupi oleh lumpur dosa. Maka seharusnya kita lebih butuh ampunan Allah Ta'ala dari pada Nabi sallallahualaihiwasallam. 
Mumpung masih ada kesempatan waktu, kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, memaksimalkan beribadah kepada Allab, menangis, bersujud dan berdo'a kepada Allah Ta'ala. 


Apalagi kita telah mengetahui bahwasannya di 10 hari terakhir bulan ramadhan ini terdapat malam yang agung, malam yang mulia, yang mana malam tersebut lebih baik dari pada 1000 bulan. Yaitu; Lailatul Qadar.
Allah Ta’ala berfirman,


لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ


“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3). 

Kata ulama ahli tafsir diantaranya ; Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. [Zaadul Masiir, 9: 191]. Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.


Bayangkan jama'ah,  Surga itu mahal. Untuk mendapatkan rumah saja kita perlu bekerja dan mengumpulkan uang bertahun-tahun. Bagaiman dengan surga yang nilainya melebihi dunia seisinya, maka dengan terbatasnya umur kita maka amalan kita tidak pernah cukup untuk ditukarkan dengan surga, maka kesempatan kita adalah bagaimana kita bisa meraih malam lailatul qadar, yang mana beribadah dimalam tersebut melebihi beribadah selama 1000 bulan.

Bahkan sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita umatnya untuk berupaya mencari lailatul qadar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017).

yang dimaksud  الْوِتْرِ atau malam ganjil disini adalah malam ke 21, 23, 25 dan 27.
Kemudian dimalam-malam tersebut kita memperbanyak ibadah; shalat sunnah, membaca al quran dan Perbanyaklah membaca do'a,


اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى


Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850)


Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiqnya kepada kita dan semoga Allah mempertemukan kita dengan lailatul qadar, dan semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dibulan ramadhan, sehingga dosa-dosa kita seluruhnya diampuni oleh Allah Ta'ala sehingga ketika Ramadhan meninggalkan kita dosa-dosa kita telah diampuni oleh Nya.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،


فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،


Jama'ah sidang shalat jum'at yang semoga dirahmati oleh Allah, pada kesempatan khutbah yang kedua ini marilah kita berdo'a kepada Allah Ta'ala semoga Allah memberikan hidayah dan taufiqnya kepada kita dan mengampuni seluruh dosa-dosa kita.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ


عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ











Sunday, April 9, 2023

Tafsir QS. Ali-Imran ayat 102 : Memelihara Islam Dengan Taqwa

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ

 

Tafsir QS. Ali-Imran ayat 102


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."(QS. Ali-Imran (3) :102)

Penjelasan :

Perhatikan pada bagian ayat terakhir, Allah memberi peringatan,

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

Pemahaman dari ayat tersebut bukan lah, "Janganlah kamu mati kecuali KTP mu tercatat agama mu Islam" Bukan.
Akan tetap pemahaman yang benar dari ayat tersebut adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa yang dimaksud,

وَ لا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

adalah ;

حَافِظُوا عَلَى الْإِسْلَامِ فِي حَالِ صِحَّتِكُمْ وَسَلَامَتِكُمْ لِتَمُوتُوا عَلَيْهِ

“Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas Islam.

فَإِنَّ الْكَرِيمَ قَدْ أَجْرَى عَادَتَهُ بِكَرَمِهِ أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ ،
وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhnya Dzat yang Maha Mulia dengan kemurahan-Nya, akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya.

وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ ، فَعِيَاذًا بِاَللَّهِ مِنْ خِلَافِ ذَلِكَ

Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsiir Ibnu Katsir, 2/87)

Hal ini selaras dengan hadits Nabi riwayat Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba Allah itu akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim, no. 2878).

Berkata Al-Munaawi dlm buku At-Taisiir bi Syarh‏ ‏Al-Jaami' As-Shogiir, yang dimaksud hadits Nabi tersebut,

أي يَمُوتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ

"Yaitu; ia meninggal di atas yang biasa ia jalani dan ia‏ ‏dibangkitkan di atas hal itu"
Artinya jika kita ingin mati dalam keadaan Islam maka wajib bagi kita untuk mengamalkan konsekwensi-konsekwensi seorang Muslim.

Apa itu konsekuensi Islam yang wajib untuk dijalani ?
Yaitu ; Taqwa, makanya jika kita perhatikan diawal ayat Allah mengatakan ;

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ

Dia mendahulukan Taqwa.
Apa itu taqwa; taqwa adalah menjalankan segala syariat yang telah Allah tetapkan dengan sepenuh hati secara keseluruhan. Mulai dari menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Tidak boleh dipilah-pilah, karena sesungguhnya agama ini bukan lah Prasmanan. Akan tetapi dalam kita beragama harus kaffah (secara keseluruhan). Sebagaimana Allah berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِ!نَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah (2) : 208)

Taqwa dimulai dari membangun pondasi keyakinan/aqidah yang benar dengan mempelajari dan memahami rukun iman secara benar; iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, iman kepada Hari kiamat, dan imam kepada taqdir Allah yang baik dan yang benar, serta membersihkan diri dari segala bentuk khurofat/tahayul cerita-cerita dusta. Karena diawal ayat tadi Allah memerintah orang-orang yang telah beriman dengan keimanan yang benar untuk bertaqwa kepada-Nya dengan sebanar-benar taqwa. 
Sehingga syarat diterimanya Taqwa harus bersih dari penyimpangan aqidah khususnya kesyirikan.
Kemudian setelah kita membangun aqidah yang benar, kita mempelajari dan mengamalkan rukun-rukun Islam yang lima secara benar; dimulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat, haji. Serta amalan-amalan sunnah lainnya.

Apa yang kita pelajari dari ke lima ini, yaitu ; Rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan pembatal-pembatalnya.
Serta kita mempelajari dan mengamalkan perkara  halal dan haram.

Oleh karenanya laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi apa-apa yang dilarangnya dengan penuh keyakinan.
Maka dari situ insyaAllah kita akan dapat meraih taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Sehingga harapannya kita dapat mati dalam keadaan Islam, mati husnul khatiman.
Kesimouoannya tafsir dari ayat QS. Al Imaran ayat 102 adalah seseorang yang ingin mati dalam keadaan Islam hendaknya benar-benar mengamalkan konsekwensi Islam yaitu dengan Bertqwa kepada Allah. Dimulai dari membangun aqidah yang benar dan membersihkan diri dari segala bentuk penyimpangan aqidah lalu kemudian mengamalkan syariat islam secara kaffah dimulai dari rukun-rukun Islam yang Lima. Jika hal ini diterapkan InsyaAllah kita akan wafat diatas agama yang lurus yaitu Dienul Islam. Wallahua'lam

Tharah (Bersuci)

 -