Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Gabung yu di IeLC !!!

Belajar islam jadi lebih mudah cukup lewat Gadget anda.

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos

Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya,"bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos." Baca selengkapnnya..

Ia Membuat ku Malu

Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Baca selengkapnya...

Tuesday, January 17, 2023

Kebanyakan Manusia Suka Mengeluh & Kikir, kecuali...


Didalam al quran Allah menceritakan tentang tabi'at atau sifat buruk pada kebanyakan manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا

"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh."

إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا
"Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah," (QS. Al-Ma'arij 70: 20-21)

Imam ibnu katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa apabila tertimpa kesusahan, ia kaget dan berkeluh kesah serta hatinya seakan- akan copot karena ketakutan yang sangat, dan putus asa dari mendapat kebaikan sesudah musibah yang menimpanya.

Artinya ketiga ketika dia ditimpa musibah berupa kesusahan isinya hanyalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Merasa hidupnya paling menderita sendiri, merasa Allah tidak adil. Mereka lah orang-orang yang jahil (bordoh) akan ilmu, mereka tidak memahami iman terhadap segala tadir Allah sehingga sulit baginya untuk menayukuri segala ketetapan Allah. 

Dia tidak memahami bahwa bersama kesulitan ada kemudahan,

إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا

"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah 94: 6)

dan setelah kesulitan ada kebaikan yang banyak.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ

”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” [HR al Bukhari]

Dalam ayat selanjutnya Allah jelaskan kembali tentang tabiat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا

"dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir," (QS. Al-Ma'arij 70: 22)

Tapi kalau dikasih kebaikan berupa harta dia kikir, pelit, lupa sama Allah, lupa bagaimana ketika dia susah dulu, mengemis, menangis kepada Allah.

Namun Allah kecualikan dalam ayat selanjutnya,
إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ
"kecuali orang-orang yang melaksanakan sholat," (QS. Al-Ma'arij 70: 22)

Karena orang yang istiqomah dalam shalat adalah orang yang optimis dalam hidupnya, sebesar apapun musibah yang menimpanya dia sandarkan semuanya hanya kepada Sang Pencipta, dia memohon pertolongan hanya kepadanya dan dia paham bahwa hanya Allah satu-satunya yang mampu untuk menolong serta dia yakin Allah tidak pernah dzalik pasti ada kebaikan setelah musibah. Sehingga dia jadikam shalt sebagai solusi utama dalam setiap permasalahannya. Sebagaimana firman Allah,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

Dan orang yang istiqomah dalam shalat ada orang yang paling bersyukur karena nikmat yang Allah berikan tidak membuatnya buta dan lupa diri. Dia sadar bahwa nikmat itu dari Allah dan akan kembali kepada Allah. 

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar dan syukur.Barokallahufikum

✒️al faqir Abdul Aziz Jaisyi

Friday, January 13, 2023

Tuntunan Shalat Sesuai Sunnah Nabi

Wednesday, January 11, 2023

Jangan Hiraukan Penilaian Banyak Orang


Ketika engkau belajar untuk istiqomah diatas taqwa, mengikuti sunnah Nabi mu shallallahualaihiwasalam lalu engkau dinilai salah, di pandang tersesat, dicap radikal oleh kebanyakan manusia. Tidak usah engkau khawatir dan bersedih hati, karena banyaknya orang yang memusuhimu, menjelek-jelekkanmu tidak menjadikan jaminan bahwa engkau salah dan mereka benar !!! Karena Allah sendiri mengatakan dalam al-quran tentang model kebanyakan manusia yang semacam itu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ
"Katakanlah, "Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? Sungguh, kebanyakan dari kamu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Ma'idah 5: 59)

Maka terus lah istiqamah, amalkan agamamu sesuai dalil Quran dan Sunnah (hadits) yang Allah turunkan sebagai petunjukmu. Selama engkau berpegang teguh terhadap kedua nya dapat dipastikan engkau berada pada jalan yang benar dan engkau tidak akan pernah tersesat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13). Wallahua'lam

✒️Abdul Aziz Jaisyi

Friday, January 6, 2023

Makna Syukur


Bukan berarti tidak bersyukur tatkala seorang memilih makanan lain dari pada makanan yang telah dihidangkan. Karena Nabi pernah tidak memilih untuk memakan makanan yang dihidangkan karena Nabi tidak menyukainya dan perbuatan Nabi tersebut tidak dicela oleh Allah Ta'ala. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits,

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Bukan berarti tidak bersyukur seorang yang menginginkan pindah dari tempat tinggalnya saat ini, mencari tempat tinggal yang lebih nyaman. Karena sahabat nabi pernah memilih pindah dari Makkah menuju ke habasyah, sedang pada saat itu Nabi ada di Makkah. Dan Nabi mengizinkannya.

Karena pengertian syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim,

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).

Jadi makna syukur yang sebenanarnya adalah mengakui akan nikmat pemberian Allah atau taqdir yang Allah telah tetapkan dengan memuji-Nya _"Alhamdulillah"_, serta tidak mencelanya dan mewujudkannya dengan ketaatan kepada-Nya (Allah).

Karena lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).

Dan mencaci nikmat tersebut. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والذي ينبغي للإنسان إذا قدم له الطعام أن يعرف قدر نعمة الله سبحانه وتعالى بتيسيره وأن يشكره على ذلك وألا يعيبه إن كان يشتهيه وطابت به نفسه فليأكله وإلا فلا يأكله ولا يتكلم فيه بقدح أو بعيب

“Yang hendaknya dilakukan oleh seseorang jika dihidangkan makanan adalah menyadari besarnya nikmat Allah Ta’ala kepadanya dengan memudahkannya (mendapatkan makanan) dan juga bersyukur atasnya. Dan seseorang hendaknya tidak mencela makanan tersebut. Jika dirinya berselera dan senang (suka) terhadap makanan tersebut, hendaklah dimakan. Jika tidak, maka tidak perlu dimakan, dan tidak mengomentari makanan tersebut dengan komentar yang berisi celaan dan hinaan.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1; 817)

Inilah maknya syukur yang sebenarnya. Maka jadilah kita hamba yang bersyukur terhadap apa yang Allah telah tetapkan dan apa yang Allah telah berikan. Barokallahufikum


Wednesday, January 4, 2023

Belajarlah Menjadi Manusia Yang Adil Utamanya Dengan Keluarga !!!



Islam adalah agama yang sempurna, segala sesuatu telah diatur dalam Islam. Termasuk Islam mengatur bagaimana sikap kita ketika berinteraksi dengan keluarga, dan posisi kita saat itu sebagai apa; anak, adik, kaka, suami, istri, orang tua, mertua, menanti, besan. 


Islam mengatur bagaimana kita menjadi anak yang baik, saudara yg baik, suami yang baik, istri yang baik, orang tua yang baik, mertua yang baik, besan yang baik.


Semua telah diatur dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahualaihiwasallam. Beliaulah suritauladan yang baik dan Bukankah Rasul memerintah kepada kita untuk mengutamakan berbuat baik kepada keluarga sebelum orang lain ?Sebagaimana Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].


Terkadang kita adil dalam satu posisi tapi dzolim dalam posisi lain. adil ketika menjadi suami, tapi dzolim ketika menjadi ayah, adil ketika menjadi menantu, dzolim saat menjadi mertua. Maka wajib bagi kita untuk belajar menjadi muslim yang adil sesuai apa yang Rasulullah ajarkan. Dan adil terhadap kerabat atau kelaurga serta berbuat baik kepada mereka (Orang tua, anak, saudara, mertua, menantu, besan) merupakan perintah Allah didalam Al-Qur'an. Allah berfirman,


إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيﵚ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِ ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ


"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl 16: Ayat 90)


Pelajari akhlak Rasulullah sebagai anak, orang tua, mertua, menantu, besan. InsyaAllah hidup kita akan diberkahi oleh Allah Ta'ala. Dan itu adalah upaya untuk mengurangi konflik dalam keluarga, serta mencegah terputusnya jalinan silaturahim (kekeluargaan).  Wallahua'lam

Tuesday, January 3, 2023

Sungguh Mengherankan



Sungguh mengherankan seorang muslim yang setiap hari minimal tujuh belas kali mengatakan dalam shalatnya,


ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ


"Tunjukilah kami jalan yang lurus,"


صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ


"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah 1: 6-7) 


Para ulama ahli tafsir menjelaskan diantaranya Imam Ibnu katsir yang dimaksud "bukan (jalan) mereka yang dimurkai" adalah kaum Yahudi, dan yang dimaksud "bukan (pula jalan) mereka yang sesat" adalah Nasrani."

Namun di luar shalat dia melakukan perbuatan-perbuatan atau melestarikan tradisi-tradisi orang Yahudi dan Nasrani; merayakan Ulang Tahun, ikut pesta kembang api di tahun baru, turut bergembira dihari raya mereka, menikmati lantunan musik sebagai mana orang kafir menimmati lagu-lagu yangg dilantunkan ditempat peribadatan mereka, dan lain semisalnya. Nauzubillah mindzalika.

Sungguh harapan tak sesuai dengan usaha. Saat dihadapan Allah merengek Minta ditunjukkan jalan yang lurus sebagaimana jalannya orang-orang yang beriman, namun  pada kenyataannya diluar sana dia simpatik dengan orang-orang yg kufur kepada Allah. Bukankah ini ciri-ciri munafikun (orang-orang munafiq)Padahal Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,


 لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ


“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan)


Semoga Allah memberikan taufik hidayahnya kepada kita dan menjauhkan kita dari prilaku orang-orang kafir. Barokallahufikum