Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Gabung yu di IeLC !!!

Belajar islam jadi lebih mudah cukup lewat Gadget anda.

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos

Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya,"bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos." Baca selengkapnnya..

Ia Membuat ku Malu

Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Baca selengkapnya...

Sunday, October 29, 2023

Download Maktabah Syamilah Versi PC



Maktabah Syamilah (المكتبة الشاملة; Maktaba Shamela) merupakan sebuah peranti lunak komputer gratis berbasis Microsoft Windows yang berbentuk Pembaca (readerbuku elektronik dan perpustakaan digital. Peranti ini dapat dimasukkan dengan berkas (file) buku elektronik hingga puluhan ribu kitab. Peranti ini memiliki berbagai fitur seperti pencarian cepat, pencatatan, referensi silang, portabel-itas dan berbagai kemudahan lainnya yang tidak didapat pada kitab berwujud fisik biasa. Selain versi PC, juga tersedia versi mobile untuk platform Android dan I-phone yang dapat didownload dari situs penerbitnya.

Untuk mendonload aplikasi Maktabah Syamilah versi Pc (Windows) anda bisa klik disini.
Setelah itu anda akan masuk disitus Maktabah Syamilah. Kemudian klik tulisan هنا sesuai pada gambar di bawah ;


Semoga bermanfaat selamat mencoba !!!

Saturday, October 28, 2023

Apakah Akal Membutuhkan Wahyu ?

 


Akal merupakan karunia pemberian Allah sebagai alat untuk berfikir dalam mencerna setiap perintah Tuhan dan untuk menjalani kehidupan. Dengan akal seorang bisa shalat dengan benar, puasa, zakat, haji dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Dengan akal pula manusia bisa membuat makanan, rumah, panci, almari, motor, pesawat, sebagai penunjang dalam kehidupannya. Sehingga akal yang sehat merupakan syarat seseorang terbebani kewajiban dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (mukallaf).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: [1] orang yang tidur sampai dia bangun, [2] anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan [3] orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun Alhamdulillah kita tidak dibebani oleh Allah Sang pemberi akal untuk mencari tahu alasan logis (menalar) setiap perintah Allah, karena Allah tahu bahwa akal kita terbatas. Kita hanya diperintahkan untuk menerima dan taat terhadap-Nya tanpa harus mencari tahu terlebih dahulu sebab atau alasannya. Namun jika dikemudian hari kita menemukan atau memahami himah-hikmah dari setiap perintah dan taqdirnya itu merupakan karunia Allah sehingga iman kita semakin bertambah. Sebagaimana seorang mukmin dalam menyikapi hadits dzubab (lalat). Rasulullah pernah bersabda dalam hadits shahih Riwayat Bukhari,

 إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

“Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”
Secara akal itu adalah hal yang menjijikkan, karena akal menerima bahwa lalat adalah makhluk yang menjijikkan yang hinggap ditempat-tempat yang kotor sehingga kehadirannya di makanan, minuman akan membawa penyakit. Namun 1400 tahun yang lalu Rasul bersabda demikian dan pada saat itu belum adala laborat. Namun ketika para sahabat mendengar hadits terbut sikap mereka adalah menerima dan meyakini kebenarannya tanpa harus melakukan riset terlebuh dahulu. Dan ternyata setelah berabad-abad baru diyakini bahwa apa yang Rasul sabdakan benar, dimana pada sayap lalat terdapat penawar. Sebagaimana dilansir pendis.kemenag.go.id pada  tanggal 12 oktober 2022 seorang Siswa MAN 2 Tasikmalaya, Bernama Nabilah Husniyyah melakukan sebuah penelitian yang berjudul Profiliing dan Docking Senyawa Kandidat Antikanker dari Sayap Kanan Lalat melalui Karakteristik GC-MS. MasyaAllah tabarokaRahman
 
Menagapa kita tidak wajib mencari tahu alasan dalam setiap perintah dan larangannya ?

Pertama ; Sadarilah kita adalah ‘Abdun (hamba) hamba tidak memiliki kuasa untuk bertanya apa yang menajdi perintah dari Tuanya. Tugas hamba hanya menerima dan taat setiap Perintah tuannya. Sedangkan Allah berikan akal kepada manusia agar hambanya faham dan tahu apa yang menjadi kewajibannya dan bisa melaksanakan perintah-Nya dengan baik dan benar. Karena orang gila yang hilang akalnya tidak mungkin bisa menerima perintah itu apa lagi melaksankannya dengan baik dan benar.
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At Taghabun: 12)

Az Zuhri –rahimahullah– mengatakan,

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ ، وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْبَلاَغُ ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

“Wahyu berasal dari Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan kepada kita. Sedangkan kita diharuskan untuk pasrah (menerima).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabut Tauhid secara mu’allaq yakni tanpa sanad)

Kedua : Islam adalah agama Iman. Artinya banyak hal-hal kaitannya dengan wahyu Allah yang tidak terjangkau oleh akal manusia; tentang taqdir, hari kiamat, isra’ mi’raj, surga dan neraka serta masih banyak lagi hal-hal yang Allah wahyukan yang tidak terjangkau oleh akal manusia bahkan sekalipun mereka melakukan riset. Maka sadarilah Rob kita adalah Rob yang maha tahu atas segala sesuatu, karena Ia adalah Pencipta (Kahaliq) dan yang menentukan taqdir setiap makhluk ciptaan-Nya, sehingga dia tahu apa yang terjadi setelah ini setiap daun yang jatuh, aktifitas semut yang ada didalam luban yang tersembunyi Dia mengetahuinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
 
“Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allâh amat mengetahui segala yang gaib?” (QS.At-Taubat/9: 78)
 
Namun bukan berarti kita tidak boleh menggali setiap hikmah dibalik taqdir Allah, atau meneliti setiap wahyu dari-Nya. Tidak sedikit teknolog yang masuk islam setelah melakukan sebuah penelitian terhadap apa yang Allah wahyukan. Sebagaimana kisah dokter kulit dari jepang setelah meneliti ayat Allah QS. An Nisa ayat 56 lalu dia memadukan dengan ilmu kedokterannya. Berawal dari peratanyaan “menagapa Allah membakar kulit manusia hingga hangus lalu ia kembalikan Kembali ?” jawabannya karena kulit adalah indra perasa pada manusia. Lalu masukkah ia kedalam Islam.
 
Lalu apakah akal membutuhkan wahyu ?
Maka jawabannya ; Sangat butuh, mengapa ? karena diawal sudah saya sampaikan bahwa akal manusia sangat terbatas sehingga terkadang tidak dapat menjangkau (mengetahui alasannya/ hikmahnya) dari setiap perintah dan larangan Allah. Jika boleh saya menganalogikan bahwa akal adalah ibarat mata dan wahyu adanya cahanya. Seorang yang bisa melihat (memiliki mata) dia tidak bisa berjalan dengan benar tanpa Cahaya (pelita/lampu). Dia akan tertabrak dengan benda-benda yang ada disekitarnya atau terjatuh karena lubang yang ada dihadapannya. Sehingga akal butuh wahyu sebagai pembimbing dalam kehidupan manusia. Olehkarenanya Allah tegaskan dalam firmnnya,
 
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ

Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang yang memiliki pikiran bisa mengambil pelajaran” (QS. Shaad: 29)
 
Dan Ketika akal tidak dibimbing oleh wahyu maka akal akan menjadikan hawa nafsu sebagai pembimbingnya. Sedangkan nafsu tidak lah mengajak kecuali pada keburukan. Sebagaimana Allah berfirman,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf : 53)
 
Maka Ketika manusia menjadikan nafsu sebagai pembibingnya jadilah mereka sebagai Ahlul hawa’; pengekor hawa nafsu. Sehingga hidupnya selayaknya Binatang bahkan lebih buruk dari Binatang. Allah sendiri yang mengatakan demikian,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Surat Al-A’raf : 179)

Maka sikap seorang mukmin yang benar adalah hendaknya menjadikan akal sebagai media untuk mencerna setiap ayat-ayat Allah baik ayat kauniah (ciptaan-Nya) maupun ayat syariyyah (Qur’an dan Hadits), sehingga dengan seperti itu semakin bertambah keimananya kepada Allah Ta’ala. Wallahu’alam
 
 
 
 




Monday, October 23, 2023

Tafsir Ali Imran ayat 103 : “seorang yang tidak menyukai perselisihan berarti melanggar Sunnatullah” Apakah Benar ???


 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Allah Ta’ala berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."(QS Ali Imran:103)

 

Penjelasan :

Ada seorang Doktor Filsafat berkata dalam ceramahnya, “seorang yang tidak menyukai perselisihan berarti melanggar Sunnatullah...”. Ucapan ini tidak benar !!! dan jika ini dipedomani oleh banyak orang maka akan dapat menjadi pemicu perpecahan dikalangan umat Islam. Memang betul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdasarkan wahyu dari Allah beliau pernah bersabda,

 

إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 

“Sesungguhnya bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua, semuanya di neraka kecuali satu, dan dia adalah jama’ah” [HR Ibnu Majah ; 3983] Dishahihkan Al-Albani Shahih Ibnu Majah 2/364

---------------------------------------------------------------------------

Note: Al-jama’ah dalam hadits tersebut adalah bermakna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

---------------------------------------------------------------------------

Namun bukan berarti dengan sengaja kita membuat sesuatu yang dapat menimbulkan perpecahan dikalangan ummat. Ini merupakan pemahaman yang keliru. Keatuhilah bahwa perpecahan umat Islam ini merupakan takdir kauny (kehendak Allah untuk menciptakannya) bahwa pada akhir zaman umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti berpecah-belah, akan tetapi bukan berarti Allah menyukai perpecahan tersebut. Karena belum tentu apa yang Allah ciptakan Allah menyukainya melainkan hal tersebut adalah sebagi ujian bagi orang yang beriman, seperti Allah ciptakan babi, khamr, dan lain semisalnya.

Celakanya mereka yang mengumandangkan akan bolehnya perpecahan, mereka berdalil dengan hadits palsu ‘ikhtilafu umati rahmat’ (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilah perkataan itu bukan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi hadits palsu. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Dho’ifah berkata : “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akan tetapi tidak menemukannya”.

Bagaimana mungkin perpecahan menimbulkan Rahmat sedangkan kita menyaksikan dengan mata kita bahwa banyak kemadzaratan yang terjadi akibat perpecahan; permusuhan, peperangan, perceraian, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Dan didalam Al Qur’an secara terang Allah memerintahkan kepada kita untuk bersatu diatas agama Allah yang lurus dan melarang untuk bercerai berai karena bercerai berai merupakan sifat kaum jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya ,“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Diantaranya  terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi n dan para sahabat beliau.”

Al Imam Al Qurthubi juga berkata tentang tafsir ayat ini,“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]

Berorganisasi tidak dilarang dalam islam, namun jangan sampai kefanatikan terhadap organisasi menjadi sebab pepecahan dan permusuhan sesama kaum muslimin. Melainkan jadikan Organisasi sebagai media untuk mensyi'arkan Islam.

Maka untuk mencapai pesatuan tersebut tidak ada cara lain kecuali dengan mengembalikan setiap permasalahan khususnya dalam hal agama yaitu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS An-Nisa’ : 59).


Disebutkan di dalam kitab Fathul Bayan ;


والرد إلى الله هو الردّ إلى كتابه العزيز، والردّ إلى الرسول: هو الردّ إلى سنته المطهرة بعد موته، وأما في حياته فالردّ إليه سؤاله

“Mengembalikan kepada Allah yaitu mengembalikan kepada kitab yang mulia (Al-qur’an), dan mengembalikan kepada Rasul maknanya mengembalikan kepada sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang suci setelah beliau wafat. Dan bertanya kepada beliau tatkala beliau masih hidup.”
(Fathul Bayan Fi Maqashidil Qur’an : 2/101 karya Imam Sidiq Hasan Khan rahimahullahu ta’ala).

Artinya jika umat Islam ingin bersatu hendaknya menjadikan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai landasan beragama dan memahaminya sesuai ijma' para salafushalih. Wallahua'lam

 
 

Saturday, October 21, 2023

Menengahi Adannya Riwayat Tentang Larangan & Memperbolehkan Menulis Hadits

Saat presentasi mata kuliah Studi Hadits ada rekan saya bertanya, "mengapa terdapat di satu hadits bahwa Rasul melarang sahabatnya untuk menulis hadits, namun ada riwayat lain yang mana Rasul mengizinkan sahabatnya untuk menulis haditsnya bahkan hadits yang memperbolehkan ada 4 riwayat seolah-olah kontradiksi ??" Lalu dosen kami Prof.Muhammad Hambali hafidzahullah mengizinkan kami untuk menjawab. 

Alhamdulillah kami menemukan sumber yang valid yaitu dalam buku Mabahis fi 'Ulumil Hadits karya Syaikh Manna Al Qattan. Dimana dalam buku tersebut beliau menyebutkan tiga alasan dari pendapat ulama terkait permasalahan tersebut. Yaitu ; Para ulama telah memadukan dua pendapat yang berselisih, antara mereka yang Islam dan membolehkan penulisan hadits sebagai berikut:

  1. Larangan penulisan terjadi pada awal masa perkembangan Islam dikhawatirkan terjadi percampuran dan penggabungan antara hadits Nabi dan Al-Qur'an. Ketika keadaan sudah aman dan kondusif dan banyak para penghafal Al-Qur'an, Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadits, dan larangan sebelumnya menjadi mansukh (terhapus).
  2. Larangan hanya khusus pada penulisan hadits bersamaan dengan Al- Qur'an dalam satu lembar atau shahifah, karena khawatir terjadi kemiripan atau persamaan.
  3. Larangan hanya bagi orang yang diyakini mampu menghafal-nya karena dikhawatirkan akan bergantung pada tulisan, sedangkan diperbolehkan penulisan hanya bagi orang yang diyakini tidak mampu dalam menghafalnya seperti Abu Syah.
Narasi asli dari kitab Mabahis fi 'Ulumil Hadits

Maka dengan demikian, hilanglah kesan kontradiksi antara hadits yanng melarang untuk menulis dengan hadits yang memperbolehkan.
Namun demikian perlu difahami bahwa adanya perbedaan ini hanyalah terjadi pada masa awal saja, kemudian ijma' kaum muslimin sepakat memperbolehkan penulisan tersebut.  Sebagaimana pernyataan Ibnu Ash Shalah, " Lalu hilanglah perbedaan, dan kaum muslimin sepakat untuk membolehkannya. Kalaulah tidak dibukukan dalam bentyk tulisan tentu akan hilang hadits Rasul pada masa-masa berikutnya." Wallahua'lam

Wallahua'lam

Sunday, October 1, 2023

Bekal Bagi Para Penuntut Ilmu

Tuesday, September 5, 2023

Informasi Pendaftaran IeLC







Tahapan Mendaftar di IeLC (Islamic e-Learning Center)

  1. Luruskan niat ikhlas semata-mata karena mencari ridho Allah Ta'ala.
  2. Membayar biaya pendaftaran Rp.100.000 (hanya sekali bayar) tranfer ke no rek 1410018712091 Bank Mandiri an.Abdul Aziz
  3. Mengisi Form pendaftaran
  4. Masuk grub kelas
  5. Selanjutnya selamat belajar.

Demikian enam tahapan yang wajib diketahui dan dipenuhi oleh calon mahasantri IeLC. Semoga Allah berikan kemudhan anda dalam menuntut ilmu.Barokallahufikum

Thursday, August 31, 2023

Indonesia Darurat Judi Online

 


Maraknya situs judi online di jagat maya membuat masyarakat banyak yang terjebak ke dalam perbuatan buruk mulai dari; terlilit pinjol (pinjaman online), pemerasan, pembunuhan, penculikan, pencurian, bunuh diri, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang merebak akibat judi online.

 

Saya coba menyebutkan beberapa kasus-kasus yang terjadi belakangan ini akibat judi online. Dimulai pada bulan juni 2023 kurang lebih ada tiga kasus, pertama; dilansir Kompas.com seorang pekerja IKN tewas bunuh diri akibat terjerat pinjol karena Judi Slot, kemudian kasus kedua terjadi di Morowali Sulteng seorang anak rela rampok dan bunuh ibu kandung demi main judi online, masih di bulan juni seorang karyawan diler motor di Balikpapan  menggelapkan uang penjualan unit motor untuk main judi online. Kemudian masuk di bulan juli 2023; dilansir dari laman tvonenews.com seorang pemuda di Bangka Belitung nekat membobol 8 rumah karena kecanduan narkoba dan sering Depo Judi Online, kemudian terjadi di Gersik seorang suami tega kurangi jatah belanja Istri demi judi online hingga mendekam di penjara. Lalu masuk dibulan agustus 2023; dilansir detik.com karena ketagihan judi slot seorang pemuda nekat bobol minimarket di Bandung, dan lima jam yang lalu dilansir www.cnnindonesia.com Seorang karyawan perusahaan manufaktur tekstil di Jakarta Barat nekat menggelapkan barang-barang milik kantor tempatnya bekerja karena terlilit utang akibat judi online, dan jika didata masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di Indonesia akibat judi online.

 

Maka benar apa yang difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah  ayat 219. Allah Azza wa Jalla berfirman,

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar  (minuman keras) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.”

 

Memang judi dan khamr memiliki manfaat namun manfaatnya tidak sebanding dengan madzaratnya (dampak buruknya), karena sebab judi dan khamr seorang bisa gelap mata hingga melakukan tindak kejahatan; mencuri, memperkosa, membunuh, merampok, memeras dan kejahatan lainnya. Sehingga minuman keras dan judi diharamkan dalam Islam.

 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi baru-baru ini mengumumkan bahwa Indonesia darurat judi online. Melihat kini situs-situs judi online semakin menjamur dan semakin terang-terangan mempromosikannya. Pernyataan beliau tersebut dilansir dalam laman tempo.co.

Budi Arie Setiadi juga menyampaikan, sepanjang 2018 hingga 19 Juli 2023, Kominfo telah melakukan pemutusan akses atau blokir 846.047 situs yang mengandung konten perjudian online. Bahkan, sepekan setelah menjabat Menkominfo pada 17 Juli lalu, terdapat 11.333 konten judi online telah diblokir. 

Apa yang memotivasi seorang bermain judi online ?

Mungkin diantara sebabnya adalah kebutuhan ekonomi saat ini yang semakin meningkat, kemudian sedikitnya lapangan perkerjaan ditambah banyak masyarakat khusunya kaum pria yang tidak memiliki skill (kemampuan) sehingga sulit untuk mengembangkan diri dan hanya berpatokan menjadi pekerja atau karyawan, belum lagi pengaruh gaya hidup hedonis yang bertebaran di media sosial; dimana seorang selegram atau youtuber sering kali memamerkan kehidupannya yang glamor dalam konten-konten mereka, sehingga mendorong seorang ingin mengikuti gaya hidup semacam itu. Maka dengan pikiran dangkalnya judi onlinelah solusi yang tepat untuk menuruti segala keinginan hawa nafsunya tersebut, padahal sebenarnya dia sedang masuk dalam lingkaran api yang akan membakar masa depan hidupnya. Khusunya para kawula muda yang masih sangat labil dalam berfikir dan bertindak, ingin cepat kaya dengan cara yang instan tanpa harus bersusah payah bekerja. Sungguh boodoh pemikiran semacam ini.

 

Padahal jika kita membaca buku-buku Sejarah tentang kisah hidup para sahabt nabi, atau orang-orang sukses lainnya, mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berdagang, berternak, menjadi karyawan toko, dan lain semisalnya. Karena tidak mungkin sesuatu yang enak didapatkan dengan cara yang instan, kecuali kesenangan itu hanyalah sesaat, semua butuh proses yang matang.

 

Lalu bagaimana cara mencegah agar tidak mudah terjelembab dalam judi online ?

Dari sudut pandang Islam, setidaknya ada tiga hal yang dapat mencegah seseorang agar tidak terjelembab dalam judi online. Diantaranya yaitu ;

Pertama : berilmu, ilmu adalah perisai jiwa dari dorongan syahwat dan bisikan syaiton yang senantiasa mengajak kepada keburukan. Dengan kita mengkaji petunjuk-petunjuk Allah (Qur’an dan Sunnah) missal mengkaji ayat atau hadits tentang balasan Allah terhadap hambanya yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, melanggar perkara yang diharamkan Allah maka akan timbul pada diri kita rasa khauf (takut). Inilah yang akan mencegah kita dari perbuatan maksiat dan dihindari dari hal-hal yang buruk. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Kedua ; Menjaga Iman dan taqwa, iman dan taqwa adalah seperti 2 sisi uang logam yang keberadaannya saling menyatu dan menguatkan satu sama lain. Ketika seseorang menjaga imannya kepada Allah; kita yakin bahwa Allah itu ada dan Dia maha melihat dan mengetahui segala apa yang kita perbuat, kemudian kita istiqomah didalam ketaatan kepadanya maka InsyaAllah Dia akan memberikan solusi dari setiap permasalahan kita dan dia akan membukakan pintu rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا   وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Sehingga orang yang beriman dan bertqwa tidak pernah merasa khawatir akan masa depan hidupnya karena dia memiliki Allah zat yang maha perkasa.

 

Ketiga dan empat : bekerja yang halal dan tawakal kepada Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk menjemput rizki Allah dengan bekerja. Allah berfirman,

 

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS.Al-Jumu’ah :10)

Dan carilah rizki dengan cara yang halal agar rizki yang kita dapatkan barokah membawa kebaikan yang banyak untuk dirikita dan keluarga yang kita nafkahi. Karena masalah rizki bukan sebatas nominal tapi keberkahan. Besar nominal yang kita dapatkan tidak menjamin cukup jika tidak diberkahi oleh Allah namun sebaliknya nominal sedikit jika diberkahi maka insyaAllah cukup. Maka carilah rizki yang halal agar kehidupan kita diberkahi oleh Allah ta’ala.

Dan yang lebih penting tingkatkan tawakal kepada Allah. Jika kita sudah berusaha dengan bekerja selanjunta adalah tawakal ‘alallah menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah maka Allah pasti akan penuhi segala kebutuhan kita. Didalam Al Quran Allah memberikan jaminan kepada hambanya yang bertawakal kepada-Nya. Allah berfirman,

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. QS. Ath-Thalaq : 3)

Kelima : Qanaah, yaitu rela menerima apapun yang diberikan kepada Allah, bersyukur dan bersabar sesuai dengan apa yang berikan oleh Allah. 

 

Seorang penjudi adalah manusia yang tidak qanaah terhadap pemberian Rob-Nya. Sehingga tidak pernah merasa puas terhadap nikmat yang telah ia peroleh dan begitulah sejatinya tabi’at manusia. Rasulullah bersabda,


 

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

 


Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048)

 

Untuk bisa qana’ah seseorang hendaknya senantiasa melihat kebawah dalam masalah dunia, agar tumbuh pada dirinya rasa Syukur dan cukup terhadap nikmat Allah.

 

Dalam bab yang sama pada Sunan Ibnu Majah disebutkan pula hadits,

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »

”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani)

 

Dengan iman dan taqwa, kerja keras dan tawakal, serta qana’ah maka InsyaAllah kita akan dijauhkan dari ketertarikan terhadap judi. Karena judi hanya akan merugikan diri sendiri dan juga keuarga.

 

 



Sunday, August 27, 2023

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos


Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya, bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos. Benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihiwasalalm dalam hadits riwayat al hakim,


اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ


“Seseorang itu berada di atas agama sahabat karibnya, maka perhatikanlah salah seorang di antara kalian dengan siapakah dia berteman dekat?”


Poin dalam penyampaian beliau adalah selektif dalam memilih teman. Termasuk juga dalam memfollow atau mengkonfirm teman di Medsos.


Lalu triknya bagaimana dalam memilih teman di medsos ?


Dijelaskan dalam nadzom Alaa-laa,


 عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ


"Janganlah engkau bertanya tentang kepribadian orang lain, lihat saja temannya (pergaulannya), karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya,


فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَــــــــــــدِيْ


Bila temannya (pergaulannya) tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya (pergaulannya) baik maka temanilah dia, dengan kamu akan mendapatkan petunjuk."

Pemahamannya adalah; sebelum kita mengkonfrim seseorang di medsos lihat terlebih dahulu teman-temannya apakah anda mengenalnya, apakah teman-temannya semanhaj dan seaqidah dengan mu ?, Atau juga bisa dilihat dari postingan-postingannya, apakah yang ia posting sesuatu yang bermanfaat ? Jika ia seaqidah dan semanhaj atau yang diposting bermanfaat maka ia bisa kita jadikan teman di akun medsos mu.

Bersikap baiklah kepada semua orang, namun selektiflah dalam memilih teman. (AZ)

 Barokallahufikum

Thursday, August 24, 2023

Hadits ke 1 : Ia Membuatku Malu



Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Didalam kitab Hadits Al-Arbain An Nawawiyyah pada hadits ke 24 dari sahabat Abu dzar Al Ghifari radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad Shalllahu'alaihi wa sallam beliau meriwayatkan dari Allah 'azza wajalla sesungguhnya Allah berfirman,


يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ


"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian."

Saudaraku, tidakkah engkau menangis membaca firman Allah tersebut. bahasa kasih yang Allah sampaikan kepada hambanya sungguh menusuk jiwa. betapa sayangnya Allah kepada kita para pendosa. ribuan bahkan jutaan dosa telah kita perbuat namun Ia masih mau membuka pintu maaf-Nya kepada kita. berbeda dengan kita yang merasa suci, sehingga seorang yang ribuan kali telah berbuat baik kepada kita namun hilang sekejap hanya karena sekali kesalahan yang mungkin tak sengaja ia perbuat. 

itulah perbedaan kita dengan Robbul'aalamin, pintu maaf Allah sangatlah luas tak sempit seperti pintu yang kita punya.

Maka pantas jika kita mencintai-Nya melebihi kecintaan kita kepada apapun dan siapapun. karena ia telah memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada kita, bukan hanya itu pintu maaf pun Ia buka untuk kita. Maka rajin-rajinlah kita memohon ampun kepadanya dan barengi permohonan maaf itu dengan bukti ketaatanmu kepadanya agar engkau tidak benar-benar sedang mempermainkan-Nya.





Saturday, August 19, 2023

Membangun Semangat Baru Untuk Indonesia Yang Lebih Maju

Materi Gatrhering Akbar "Membangun Semangat Baru Untuk Indonesia Yang Lebih Maju"

Download

Friday, August 11, 2023

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Ilustrasi


Dijelaskan dalam kitab Min Ushul Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah karya Syaikh Shalih al Fauzan hafidzahullah, "Bahwa diantara prinsip aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila mereka memerintahkan berbuat maksiat di kala itu kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya". Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

 

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."(QS. An-Nisa : 59)

Jika kita perhatikan dalam ayat ini, Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh "Ati'u" taatilah !!! karena ketaatan kepada pemimpin merupakan taabi' (ikutan) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya taat kepada Allah dan Rasulnya adalah hal yang Mutlaq (wajib ditaati), adapun taat kepada pemerintah bukan hal yang mutlaq, sehingga ketika pemerintah kita mengajak atau memerintahkan pada jalan kemaksiatan maka kita tidak wajib metaatinya. Namun kita tidak boleh memberotaknya, atau megkudetannya dan kita wajib taat pada perkara mubah (yang dibolehkan) lainnya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,,

 

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

 

“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

 

Lalu ada sebuah pertanyaan, “Bagaimana jika pemerintah kita tidak dipilih secara syariat islam dan sistem hukum serta pemerintahan kita tidak berjalan diatas syariat Islam ?”

Maka kita katakan, jika pemerintah kita dipilih dengan cara islam seperti Pemilu atau tidak menggunakan cara yang telah diterapkan oleh Rasul dan para sahabatnya yaitu ; dengan jalan musyawarah seperti Abu Bakar dipilih untuk menggantikan Rasulullah, atau pemimpin sebelumnya menunjuk langsung penggantinya seperti Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab. Atau dalam menjalankan pemerintahannya dia tidak menggunakan syariat Islam sebagai asasnya. Maka kita tetap wajib mentaatinya. 


Dalil akan hal ini adalah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan tirmidzi. Dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

 

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

 

Kita tahu bahwa syarat menjadi pemimpin dalam islam harus beragama Islam dan Merdeka (bukan budak), namun jika salah satu dari sayarat tersebut tidak terpenuhi maka kita tetap wajib mentaatinya. Misalnya ; Seorang budak terpilih menjadi pemimpin (ulil amri) kita tetap wajib untuk mentaatinya, sekalipun ia tidak memenuhi syarat (Merdeka). Demikian juga sama halnya jika terjadi seorang non muslim terpilih menjadi pemimpin, Nauzubillah min dzalik kitapun wajib mentaatinya selama tidak dalam hal kemaksiatan. Demikian apa yang disabdakan oleh Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mentaati pemimpin (pemerintah) memiliki kemaslahatan yang sangat besar. 

 

Dan ketauhilah bahwa bermaksiat (menentang) kepada seorang pemimpin yang muslim merupakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, 

 

مَنْ يُطِعِ الأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ وَمَنْ عَصَى الأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِيْ

 

“Barangsiapa yang taat kepada pemimpin (yang muslim) maka dia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amir maka dia maksiat kepadaku"

Dan bermaksiat kepada Rasul sama dengan bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Allah ta’ala berfirman,

 

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

 

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS. An Nisa: 80)

 

Sehingga haram hukumnya memberontak/ mengkudeta/ mendemo terhadap pimpinan kaum muslimin, sekalipun pemimpin tersebut melakukan hal yang menyimpang seperti melakukan kedzolima. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah tentang wajibnya taat kepada mereka dalam hal-hal yang bukan maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas, sekalipun kita di dzolimi.

 

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى


“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal).

 

وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ


Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

 

Kemudian para sahabat bertanya,

 

كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ

 

Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

 

Lalu apa jawaban dari Rasulullah, apakah beliau memerintahkan untuk memberontak ? Mengkudeta ? Mendemo ? Tidak. Perhatikan jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

 

”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

 

Bahkan Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321H) berkata dalam kitab beliau, Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,

 

وَلَا نَرَى الْخُرُوجَ عَلَى أَئِمَّتِنَا وَوُلَاةِ أُمُورِنَا

 

“Dan kami (ahlus sunnah) tidak berpendapat (bolehnya) keluar (memberontak) dari pemimpin dan penguasa kami (yaitu kaum muslimin)”.

 

Ini adalah salah satu prinsip aqidah ahlus sunnah yang wajib bagi kita untuk berpegang teguh padanya. Maka bersabarlah kepada pemimpin kita dalam hal ini pemerintah, taatilah demi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Yakinlah bahwa dibalik perintah Allah dan Rasul-Nya pasti ada kebaikan yang banyak, dan dibalik larangan Allah pasti ada keburukan yang besar. Sejarah telah membuktikan, Perhatikan negara-negara yang rakyatnya melakukan kudeta kepada pemerintah akibat ketidak sabarannya terhadap pemerintah, apa yang terjadi pada negara tersebut "Apakah kemudian negara itu menjadi lebih baik sebut saja; Libiya, mesir, suria ? Jawabannya TIDAK bahkan timbul pada nya keburukan-keburukan yang lebih besar, pertumpahan darah, kemiskinan, kerusakan, dan lain semisalnya.

 

Lalu apa yang harus kita perbuat, tatakala kita menyaksikan kedzoliman pada pemimpin kita ? Yang pertama adalah nasihati ia secara sembunyi-sembunyi lalu kemudian yang kedua do'akan kebaikan untuknya. Coba tanyakan dalam hati kita “Apakah dengan mencaci pemimpin kita ia akan berubah menjadi lebih baik ???” jawabannya tentu Tidak justru itu akan menambah dosa kita karena mencacinya, menggunjingnya. Lalu pertanyaanya selanjutnya “jika kita mendoakan kebaikan padanya (pemerintah), apakah pemimpin kita bisa berubah ?” Jawabannya; “Bisa, karena Allah yang menggenggam, dan membolak balikkan hati manusia.” Maka doakan pemerintah kita jika kita melihat ada hal yang tidak baik pada dirinya, ketauhilah bahwa tidak ada manusia yang sempurna termasuk saya dan anda. 

Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,

 

لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

 

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

 

Semoga Allah menjaga negeri yang kita cintai ini dan senantiasa mengaruniai negeri ini pemimpin yang shalih.


Penulis: Abdul Aziz Jaisyi