Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Gabung yu di IeLC !!!

Belajar islam jadi lebih mudah cukup lewat Gadget anda.

Tidak Sembarangan Berteman di Medsos

Banyak kasus-kasus bertebaran di media tentang orang yang tertipu, teraniaya,"bahkan terbunuh oleh teman yang ia kenali di medsos." Baca selengkapnnya..

Ia Membuat ku Malu

Aku membaca sebuah hadits yang membuatku tertegun malu campur sedih. Mengingat betapa banyaknya dosa ku hingga aku mengira tidak pantas lagi untuk mendapatkan maaf dari sang khaliq. Namun hadits itu telah membuka pintu harapan. Baca selengkapnya...

Sunday, October 29, 2023

Download Maktabah Syamilah Versi PC



Maktabah Syamilah (المكتبة الشاملة; Maktaba Shamela) merupakan sebuah peranti lunak komputer gratis berbasis Microsoft Windows yang berbentuk Pembaca (readerbuku elektronik dan perpustakaan digital. Peranti ini dapat dimasukkan dengan berkas (file) buku elektronik hingga puluhan ribu kitab. Peranti ini memiliki berbagai fitur seperti pencarian cepat, pencatatan, referensi silang, portabel-itas dan berbagai kemudahan lainnya yang tidak didapat pada kitab berwujud fisik biasa. Selain versi PC, juga tersedia versi mobile untuk platform Android dan I-phone yang dapat didownload dari situs penerbitnya.

Untuk mendonload aplikasi Maktabah Syamilah versi Pc (Windows) anda bisa klik disini.
Setelah itu anda akan masuk disitus Maktabah Syamilah. Kemudian klik tulisan هنا sesuai pada gambar di bawah ;


Semoga bermanfaat selamat mencoba !!!

Saturday, October 28, 2023

Apakah Akal Membutuhkan Wahyu ?

 


Akal merupakan karunia pemberian Allah sebagai alat untuk berfikir dalam mencerna setiap perintah Tuhan dan untuk menjalani kehidupan. Dengan akal seorang bisa shalat dengan benar, puasa, zakat, haji dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Dengan akal pula manusia bisa membuat makanan, rumah, panci, almari, motor, pesawat, sebagai penunjang dalam kehidupannya. Sehingga akal yang sehat merupakan syarat seseorang terbebani kewajiban dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (mukallaf).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: [1] orang yang tidur sampai dia bangun, [2] anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan [3] orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun Alhamdulillah kita tidak dibebani oleh Allah Sang pemberi akal untuk mencari tahu alasan logis (menalar) setiap perintah Allah, karena Allah tahu bahwa akal kita terbatas. Kita hanya diperintahkan untuk menerima dan taat terhadap-Nya tanpa harus mencari tahu terlebih dahulu sebab atau alasannya. Namun jika dikemudian hari kita menemukan atau memahami himah-hikmah dari setiap perintah dan taqdirnya itu merupakan karunia Allah sehingga iman kita semakin bertambah. Sebagaimana seorang mukmin dalam menyikapi hadits dzubab (lalat). Rasulullah pernah bersabda dalam hadits shahih Riwayat Bukhari,

 إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

“Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”
Secara akal itu adalah hal yang menjijikkan, karena akal menerima bahwa lalat adalah makhluk yang menjijikkan yang hinggap ditempat-tempat yang kotor sehingga kehadirannya di makanan, minuman akan membawa penyakit. Namun 1400 tahun yang lalu Rasul bersabda demikian dan pada saat itu belum adala laborat. Namun ketika para sahabat mendengar hadits terbut sikap mereka adalah menerima dan meyakini kebenarannya tanpa harus melakukan riset terlebuh dahulu. Dan ternyata setelah berabad-abad baru diyakini bahwa apa yang Rasul sabdakan benar, dimana pada sayap lalat terdapat penawar. Sebagaimana dilansir pendis.kemenag.go.id pada  tanggal 12 oktober 2022 seorang Siswa MAN 2 Tasikmalaya, Bernama Nabilah Husniyyah melakukan sebuah penelitian yang berjudul Profiliing dan Docking Senyawa Kandidat Antikanker dari Sayap Kanan Lalat melalui Karakteristik GC-MS. MasyaAllah tabarokaRahman
 
Menagapa kita tidak wajib mencari tahu alasan dalam setiap perintah dan larangannya ?

Pertama ; Sadarilah kita adalah ‘Abdun (hamba) hamba tidak memiliki kuasa untuk bertanya apa yang menajdi perintah dari Tuanya. Tugas hamba hanya menerima dan taat setiap Perintah tuannya. Sedangkan Allah berikan akal kepada manusia agar hambanya faham dan tahu apa yang menjadi kewajibannya dan bisa melaksanakan perintah-Nya dengan baik dan benar. Karena orang gila yang hilang akalnya tidak mungkin bisa menerima perintah itu apa lagi melaksankannya dengan baik dan benar.
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At Taghabun: 12)

Az Zuhri –rahimahullah– mengatakan,

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ ، وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْبَلاَغُ ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

“Wahyu berasal dari Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan kepada kita. Sedangkan kita diharuskan untuk pasrah (menerima).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabut Tauhid secara mu’allaq yakni tanpa sanad)

Kedua : Islam adalah agama Iman. Artinya banyak hal-hal kaitannya dengan wahyu Allah yang tidak terjangkau oleh akal manusia; tentang taqdir, hari kiamat, isra’ mi’raj, surga dan neraka serta masih banyak lagi hal-hal yang Allah wahyukan yang tidak terjangkau oleh akal manusia bahkan sekalipun mereka melakukan riset. Maka sadarilah Rob kita adalah Rob yang maha tahu atas segala sesuatu, karena Ia adalah Pencipta (Kahaliq) dan yang menentukan taqdir setiap makhluk ciptaan-Nya, sehingga dia tahu apa yang terjadi setelah ini setiap daun yang jatuh, aktifitas semut yang ada didalam luban yang tersembunyi Dia mengetahuinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
 
“Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allâh amat mengetahui segala yang gaib?” (QS.At-Taubat/9: 78)
 
Namun bukan berarti kita tidak boleh menggali setiap hikmah dibalik taqdir Allah, atau meneliti setiap wahyu dari-Nya. Tidak sedikit teknolog yang masuk islam setelah melakukan sebuah penelitian terhadap apa yang Allah wahyukan. Sebagaimana kisah dokter kulit dari jepang setelah meneliti ayat Allah QS. An Nisa ayat 56 lalu dia memadukan dengan ilmu kedokterannya. Berawal dari peratanyaan “menagapa Allah membakar kulit manusia hingga hangus lalu ia kembalikan Kembali ?” jawabannya karena kulit adalah indra perasa pada manusia. Lalu masukkah ia kedalam Islam.
 
Lalu apakah akal membutuhkan wahyu ?
Maka jawabannya ; Sangat butuh, mengapa ? karena diawal sudah saya sampaikan bahwa akal manusia sangat terbatas sehingga terkadang tidak dapat menjangkau (mengetahui alasannya/ hikmahnya) dari setiap perintah dan larangan Allah. Jika boleh saya menganalogikan bahwa akal adalah ibarat mata dan wahyu adanya cahanya. Seorang yang bisa melihat (memiliki mata) dia tidak bisa berjalan dengan benar tanpa Cahaya (pelita/lampu). Dia akan tertabrak dengan benda-benda yang ada disekitarnya atau terjatuh karena lubang yang ada dihadapannya. Sehingga akal butuh wahyu sebagai pembimbing dalam kehidupan manusia. Olehkarenanya Allah tegaskan dalam firmnnya,
 
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ

Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang yang memiliki pikiran bisa mengambil pelajaran” (QS. Shaad: 29)
 
Dan Ketika akal tidak dibimbing oleh wahyu maka akal akan menjadikan hawa nafsu sebagai pembimbingnya. Sedangkan nafsu tidak lah mengajak kecuali pada keburukan. Sebagaimana Allah berfirman,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf : 53)
 
Maka Ketika manusia menjadikan nafsu sebagai pembibingnya jadilah mereka sebagai Ahlul hawa’; pengekor hawa nafsu. Sehingga hidupnya selayaknya Binatang bahkan lebih buruk dari Binatang. Allah sendiri yang mengatakan demikian,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Surat Al-A’raf : 179)

Maka sikap seorang mukmin yang benar adalah hendaknya menjadikan akal sebagai media untuk mencerna setiap ayat-ayat Allah baik ayat kauniah (ciptaan-Nya) maupun ayat syariyyah (Qur’an dan Hadits), sehingga dengan seperti itu semakin bertambah keimananya kepada Allah Ta’ala. Wallahu’alam
 
 
 
 




Monday, October 23, 2023

Tafsir Ali Imran ayat 103 : “seorang yang tidak menyukai perselisihan berarti melanggar Sunnatullah” Apakah Benar ???


 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Allah Ta’ala berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."(QS Ali Imran:103)

 

Penjelasan :

Ada seorang Doktor Filsafat berkata dalam ceramahnya, “seorang yang tidak menyukai perselisihan berarti melanggar Sunnatullah...”. Ucapan ini tidak benar !!! dan jika ini dipedomani oleh banyak orang maka akan dapat menjadi pemicu perpecahan dikalangan umat Islam. Memang betul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdasarkan wahyu dari Allah beliau pernah bersabda,

 

إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 

“Sesungguhnya bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua, semuanya di neraka kecuali satu, dan dia adalah jama’ah” [HR Ibnu Majah ; 3983] Dishahihkan Al-Albani Shahih Ibnu Majah 2/364

---------------------------------------------------------------------------

Note: Al-jama’ah dalam hadits tersebut adalah bermakna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

---------------------------------------------------------------------------

Namun bukan berarti dengan sengaja kita membuat sesuatu yang dapat menimbulkan perpecahan dikalangan ummat. Ini merupakan pemahaman yang keliru. Keatuhilah bahwa perpecahan umat Islam ini merupakan takdir kauny (kehendak Allah untuk menciptakannya) bahwa pada akhir zaman umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti berpecah-belah, akan tetapi bukan berarti Allah menyukai perpecahan tersebut. Karena belum tentu apa yang Allah ciptakan Allah menyukainya melainkan hal tersebut adalah sebagi ujian bagi orang yang beriman, seperti Allah ciptakan babi, khamr, dan lain semisalnya.

Celakanya mereka yang mengumandangkan akan bolehnya perpecahan, mereka berdalil dengan hadits palsu ‘ikhtilafu umati rahmat’ (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilah perkataan itu bukan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi hadits palsu. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Dho’ifah berkata : “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akan tetapi tidak menemukannya”.

Bagaimana mungkin perpecahan menimbulkan Rahmat sedangkan kita menyaksikan dengan mata kita bahwa banyak kemadzaratan yang terjadi akibat perpecahan; permusuhan, peperangan, perceraian, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Dan didalam Al Qur’an secara terang Allah memerintahkan kepada kita untuk bersatu diatas agama Allah yang lurus dan melarang untuk bercerai berai karena bercerai berai merupakan sifat kaum jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya ,“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Diantaranya  terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi n dan para sahabat beliau.”

Al Imam Al Qurthubi juga berkata tentang tafsir ayat ini,“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]

Berorganisasi tidak dilarang dalam islam, namun jangan sampai kefanatikan terhadap organisasi menjadi sebab pepecahan dan permusuhan sesama kaum muslimin. Melainkan jadikan Organisasi sebagai media untuk mensyi'arkan Islam.

Maka untuk mencapai pesatuan tersebut tidak ada cara lain kecuali dengan mengembalikan setiap permasalahan khususnya dalam hal agama yaitu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS An-Nisa’ : 59).


Disebutkan di dalam kitab Fathul Bayan ;


والرد إلى الله هو الردّ إلى كتابه العزيز، والردّ إلى الرسول: هو الردّ إلى سنته المطهرة بعد موته، وأما في حياته فالردّ إليه سؤاله

“Mengembalikan kepada Allah yaitu mengembalikan kepada kitab yang mulia (Al-qur’an), dan mengembalikan kepada Rasul maknanya mengembalikan kepada sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang suci setelah beliau wafat. Dan bertanya kepada beliau tatkala beliau masih hidup.”
(Fathul Bayan Fi Maqashidil Qur’an : 2/101 karya Imam Sidiq Hasan Khan rahimahullahu ta’ala).

Artinya jika umat Islam ingin bersatu hendaknya menjadikan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai landasan beragama dan memahaminya sesuai ijma' para salafushalih. Wallahua'lam

 
 

Saturday, October 21, 2023

Menengahi Adannya Riwayat Tentang Larangan & Memperbolehkan Menulis Hadits

Saat presentasi mata kuliah Studi Hadits ada rekan saya bertanya, "mengapa terdapat di satu hadits bahwa Rasul melarang sahabatnya untuk menulis hadits, namun ada riwayat lain yang mana Rasul mengizinkan sahabatnya untuk menulis haditsnya bahkan hadits yang memperbolehkan ada 4 riwayat seolah-olah kontradiksi ??" Lalu dosen kami Prof.Muhammad Hambali hafidzahullah mengizinkan kami untuk menjawab. 

Alhamdulillah kami menemukan sumber yang valid yaitu dalam buku Mabahis fi 'Ulumil Hadits karya Syaikh Manna Al Qattan. Dimana dalam buku tersebut beliau menyebutkan tiga alasan dari pendapat ulama terkait permasalahan tersebut. Yaitu ; Para ulama telah memadukan dua pendapat yang berselisih, antara mereka yang Islam dan membolehkan penulisan hadits sebagai berikut:

  1. Larangan penulisan terjadi pada awal masa perkembangan Islam dikhawatirkan terjadi percampuran dan penggabungan antara hadits Nabi dan Al-Qur'an. Ketika keadaan sudah aman dan kondusif dan banyak para penghafal Al-Qur'an, Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadits, dan larangan sebelumnya menjadi mansukh (terhapus).
  2. Larangan hanya khusus pada penulisan hadits bersamaan dengan Al- Qur'an dalam satu lembar atau shahifah, karena khawatir terjadi kemiripan atau persamaan.
  3. Larangan hanya bagi orang yang diyakini mampu menghafal-nya karena dikhawatirkan akan bergantung pada tulisan, sedangkan diperbolehkan penulisan hanya bagi orang yang diyakini tidak mampu dalam menghafalnya seperti Abu Syah.
Narasi asli dari kitab Mabahis fi 'Ulumil Hadits

Maka dengan demikian, hilanglah kesan kontradiksi antara hadits yanng melarang untuk menulis dengan hadits yang memperbolehkan.
Namun demikian perlu difahami bahwa adanya perbedaan ini hanyalah terjadi pada masa awal saja, kemudian ijma' kaum muslimin sepakat memperbolehkan penulisan tersebut.  Sebagaimana pernyataan Ibnu Ash Shalah, " Lalu hilanglah perbedaan, dan kaum muslimin sepakat untuk membolehkannya. Kalaulah tidak dibukukan dalam bentyk tulisan tentu akan hilang hadits Rasul pada masa-masa berikutnya." Wallahua'lam

Wallahua'lam

Sunday, October 1, 2023

Bekal Bagi Para Penuntut Ilmu

Tuesday, September 5, 2023

Informasi Pendaftaran IeLC







Tahapan Mendaftar di IeLC (Islamic e-Learning Center)

  1. Luruskan niat ikhlas semata-mata karena mencari ridho Allah Ta'ala.
  2. Membayar biaya pendaftaran Rp.100.000 (hanya sekali bayar) tranfer ke no rek 1410018712091 Bank Mandiri an.Abdul Aziz
  3. Mengisi Form pendaftaran
  4. Masuk grub kelas
  5. Selanjutnya selamat belajar.

Demikian enam tahapan yang wajib diketahui dan dipenuhi oleh calon mahasantri IeLC. Semoga Allah berikan kemudhan anda dalam menuntut ilmu.Barokallahufikum